Pelatihan Asisten Musyrifah

Pelatihan Asisten Musyrifah


TENGARAN, 22 September 2026 — Balitbangwas PIAT mengambil bagian dalam penguatan kompetensi musyrifah melalui sesi pengarahan dan praktik microteaching pada rangkaian Pelatihan Musyrifah Pesantren Al Irsyad Putri Tengaran, 7–9 September 2026. Pelatihan yang diselenggarakan Pesantren Al Irsyad Putri Tengaran tersebut membekali musyrifah dan pengasuh santri putri dengan pemahaman pengasuhan berbasis fitrah, metode pembelajaran, penyusunan RPP pengasuhan, hingga praktik penerapannya.

Kegiatan berlangsung selama tiga hari di Aula Pesantren Al Irsyad Putri Tengaran. Setiap tahap disusun secara berkesinambungan, mulai dari pemahaman karakter santri, pemilihan metode pembelajaran, penyusunan rencana pembelajaran, hingga praktik di hadapan peserta lain.

Pada hari ketiga, Tim Balitbangwas PIAT mengambil peran dalam pengarahan teknis dan praktik microteaching. Tahapan ini menjadi ruang bagi peserta untuk menerapkan RPP pengasuhan yang telah mereka susun pada hari sebelumnya.

Pengasuhan Berbasis Fitrah Menjadi Fondasi Pelatihan

Pelatihan dimulai pada Senin, 7 September 2026, dengan orientasi kegiatan dan tes awal. Setelah itu, Ustaz Dr. Wachid Nurhidayat menyampaikan materi mengenai pengasuhan berbasis fitrah serta karakteristik santri usia MTs dan MA dalam pembelajaran.

Peserta mempelajari karakter peserta didik usia remaja, faktor yang dapat membuat santri mudah bosan, serta pentingnya keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Materi tersebut menjadi dasar bagi musyrifah untuk menyesuaikan pendekatan pengasuhan dengan karakter dan kebutuhan santri.

balitbangwas-piat-ust-wachid-memberikan-materi
Pemaparan Materi oleh Balitbanwas PIAT Ust Dr Wachid Nurhidayat

Pembahasan selanjutnya berfokus pada metode pembelajaran pengasuhan. Peserta mengenal metode storytelling, diskusi kelompok, studi kasus, role play, demonstrasi, pemecahan masalah, permainan edukatif, hingga refleksi.

Selain mengenal beragam metode, peserta diarahkan untuk memilih pendekatan yang sesuai dengan tujuan dan karakter materi. Tema seperti kebersihan, disiplin, kejujuran, tanggung jawab, adab, dan kepedulian digunakan sebagai contoh materi pengasuhan.

Hari pertama juga memuat sesi komunikasi dan pemecahan masalah. Materi diarahkan pada kemampuan musyrifah membangun ruang komunikasi yang aman bagi santri, menggali persoalan tanpa menghakimi, serta membantu santri mencari solusi secara proporsional.

RPP Pengasuhan Menghubungkan Materi dan Praktik

Pada Selasa, 8 September 2026, peserta memasuki tahap perencanaan pembelajaran bersama Ustaz Arief Bahtiar Rifa’i, M.Pd. Materi dimulai dengan pembahasan buku atau modul pengasuhan sebagai sumber pembelajaran.

Peserta kemudian mempelajari fungsi, manfaat, dan prinsip penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pengasuhan. Komponen yang dibahas meliputi tujuan pembelajaran, materi, metode, media, langkah pembelajaran, serta asesmen atau refleksi.

Selanjutnya, peserta mengikuti bedah contoh RPP untuk melihat keterkaitan antara tujuan, materi, metode, kegiatan, dan evaluasi. Tahap ini kemudian dilanjutkan dengan praktik menyusun satu RPP berdasarkan tema dari buku atau modul pengasuhan.

Menjelang akhir hari kedua, peserta melakukan finalisasi RPP sekaligus mempersiapkan praktik microteaching. Dengan demikian, rancangan yang telah dibuat tidak berhenti pada dokumen, tetapi menjadi bahan praktik pada hari berikutnya.

Balitbangwas PIAT Pandu Tahap Microteaching

balitbangwas-piat-ust-wachid-memberikan-materi
Pemaparan Materi oleh Balitbanwas PIAT Ust Dr Wachid Nurhidayat

Peran Balitbangwas PIAT menguat pada hari ketiga, Rabu, 9 September 2026. Tim Balitbangwas memberikan pengarahan mengenai teknis, durasi, urutan peserta, serta aspek penilaian sebelum praktik microteaching dimulai.

Peserta kemudian mempraktikkan RPP yang telah disusun dengan menerapkan metode pembelajaran aktif. Praktik tersebut menghubungkan tiga kompetensi yang dipelajari selama pelatihan: memahami karakter santri, memilih metode yang tepat, serta merancang pembelajaran pengasuhan secara terstruktur.

Keterlibatan Tim Balitbangwas PIAT dalam tahap praktik memberi ruang bagi proses pelatihan untuk bergerak dari pemahaman konseptual menuju penerapan. Rundown menempatkan Tim Balitbangwas sebagai pihak yang menangani pengarahan dan praktik microteaching pada sesi tersebut.

Setelah microteaching, rangkaian dilanjutkan dengan building commitment bersama Pimpinan Pesantren Putri. Sesi ini berfokus pada penguatan komitmen penerapan hasil pelatihan dalam kegiatan pengasuhan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan tes akhir dan penutupan. Melalui rangkaian tersebut, musyrifah memperoleh tahapan pembelajaran dari penguatan konsep, penyusunan RPP, hingga praktik pembelajaran pengasuhan yang dapat diterapkan dalam tugas kepengasuhan santriwati.

Dapatkan informasi seputar Balitbangwas PIAT melalui saluran resmi balitbangwas di instagram @balitbangwas_piat, tiktok @balitbangwas_piat dan threads @balitbangwas_piat.

Comments are disabled